AJI Bandung ajak warga narsis di CFD Dago

Memperingati Hari Kebebasan Pers Internasional 2015, AJI Bandung melakukan aksi kampanye sederhana di Car Free Day Dago, Minggu (3/5/2015).
Interaksi dengan warga yang menikmati Minggu Pagi di kawasan Dago itu dilakukan tepat pada pukul 08.00 WIB. Beberapa anggota AJI Bandung langsung mengajak warga narsis dengan foto booth berbentuk televisi berukuran 46 inci, dengan tulisan “Saya Mendukung Kebebasan Pers!”.
Tidak sedikit warga yang ikut berpartisipasi. Ada Sariban, pria yang setiap hari mengenakan pakaian kebersihan berwarna kuning, keliling kota dengan sepeda dan topi capingnya untuk membersihkan jalanan di setiap sudut Kota Bandung.
“Yang penting jangan buang sampah sembarangan, ya” pesannya ujar berfoto.
Bukan hanya Sariban, beberapa Polisi Wanita yang sedang bertugas melakukan pengamanan kawasan CFD Dago pun turut berpartisipasi melakukan kampanye World Press Freedom Day 2015.
Selain narsis, para warga yang sudah berfoto pun mendapatkan stiker beraneka warna dengan gambar pena dalam genggaman tangan.

Pengunjung Car Free Day di Dago ikut narsis dalam peringatan World Press Freedom Day 2015.

Pengunjung Car Free Day di Dago ikut narsis dalam peringatan World Press Freedom Day 2015.


Tahun 2015, AJI Indonesia menyatakan polisi sebagai musuh kebebasan pers. Sejak 1992, lebih dari seribu jurnalis di seluruh dunia terbunuh karena aktivitas jurnalistiknya. 19 di antaranya terbunuh pada 2015. Sementara di Indonesia, sejak 1996 terdapat delapan kasus kematian jurnalis yang belum diusut tuntas oleh kepolisian.
Catatan buruk untuk polisi masih bertambah dengan munculnya kasus penetapan tersangka atas Pemimpin Redaksi The Jakarta Post, Meidyatama Suryodiningrat pada awal Desember 2014 lalu, akibat penayangan karikatur yang kasus sebenarnya sudah ditangani oleh Dewan Pers. Sampai hari ini, status tersangka atas Meidyatama tidak pernah dicabut meski Dewan Pers sudah melayangkan surat bahwa kasus tersebut merupakan ranah Undang-undang Pers.
Perlakuan buruk polisi juga menimpa jurnalis Tribun Lampung yang juga Sekretaris AJI Lampung, Ridwan Hardianyah. Tanpa adanya surat perintah penangkapan, polisi tiba-tiba menangkap dan menggeledah rumahnya pada awal Maret lalu. Belakangan diketahui, polisi salah orang.
Sampai hari ini, ada delapan kasus pembunuhan jurnalis tanpa ada pengusutan terhadap pelaku. Pihak kepolisian kerap memberikan harapan palsu terhadap pengusutan kasus kematian Udin (jurnalis Harian Bernas), Naimullah (jurnalis Harian Sinar Pagi, Kalimantan Barat), Agus Mulyawan (jurnalis Asia Press), Muhammad Jamaludin (jurnalis TVRI Aceh), Ersa Siregar (jurnalis RCTI), Herliyanto (jurnalis tabloid Delta Pos), Adriansyah Matra’is Wibisono (jurnalis TV lokal Merauke), dan Alfred Mirulewan (jurnalis tabloid Pelangi, Maluku).
Aksi World Press Freedom Day 2015 yang bertema “Let Journalism Thrive! Toward Better Reporting, Gender Equality & Media Safety in the Digital Age” di Bandung ditutup dengan penampilan duo pantomim dari seniman Bandung, Wahyu dan Wanggie.(Meegha)***

Posted in Berita and tagged , , .