Di sela rutinitas peliputan, jurnalis pun berdemo pada momen May Day

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Laisa Khoerun Nissa
BANDUNG, TRIBUNJABAR.CO.ID – Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Bandung ikut berdemo di depan Gedung Sate, Jumat (1/5). Para jurnalis dari berbagai media massa yang ada di Bandung turut menyuarakan tuntutannya.
“Jurnalis juga bagian dari buruh. Kami ucapkan selamat Hari Buruh kepada kawan-kawan semua,” kata Ketua AJI Bandung, Adi Marsiela, di sela aksi.
Pihaknya menilai jika dulu ancaman terhadap kebebasan pers dilakukan oleh negara, saat ini ancaman kebebasan pers justru berada dari dalam industri media itu sendiri.
Posisi tawar jurnalis yang buruk karena tidak berserikat membuat pemilik media bisa semena-mena dalam hal kesejahteraan jurnalis atau pekerja media secara umum.
“Pesan untuk bos kami, lakukan upah sektoral, berlakukan sistem kontrak yang jelas, standar kerja yang jelas. Tolong juga penuhi hak-hak jurnalis perempuan,” kata Adi.
Ia pun meminta rekan-rekan jurnalis untuk segera membentuk serikat pekerja. Dengan begitu, hak para jurnalis bisa terpenuhi.
“Untuk teman-teman jurnalis, segera bentuk serikat pekerja di perusahaan masing-masing. Saat ini dari sekian banyak perusahaan media baru 38 di antarnya yang telah memiliki serikat pekerja,” ujarnya. (*)

http://jabar.tribunnews.com/2015/05/01/di-sela-rutinitas-peliputan-jurnalis-pun-berdemo-pada-momen-may-day

MAY DAY:AJI minta kesejahteraan jurnalis ditingkatkan

Bisnis.com, BANDUNG–Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandung melakukan demonstrasi terkait Peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) di depan Gedung Sate Bandung, Jumat, menuntut kepada perusahaan media agar kesejahteraan jurnalis ditingkatkan.

“Mendesak perusahaan media meningkatkan kesejahteraan jurnalis di tengah tambahan beban kerja akibat konvergensi media ataupun ekspansi bisnis perusahaan,” kata Ketua AJI Bandung Adi Marsela, disela-sela aksi unjuk rasa.

Ia mengatakan, jika dulu ancaman terhadap kebebasan pers dilakukan oleh negara namun sekarang malah datang dari dalam industri media itu sendiri.

“Posisi tawar jurnalis yang buruk karena tidak berserikat membuat pemilik media semena-mena dalam hal kesejahteraan jurnalis,” kata dia.

Pihaknya mendesak pemerintah menetapkan upah sektoral pekerja media dengan memerhatikan karakteristik industri media yang tengah berkembangan pesat di tengah tren konvergensi media.

“Kami juga mendesak perusahaan media yang mempekerjakan kontributor, koresponden atau freelance dengan standar kontrak kerja yang jelas sehingga bisa memenuhi kebutuhan hidup mereka,” kata dia.

Menurut dia, selama ini para jurnalis selalu memberitakan desakan peningkatan kesejahteraan para buruh, padahal para jurnalis merupakan bagian dari para buruh.

“Lalu dari satu sisi, aspek kesejahteraan para jurnalis sendiri jauh dari kelayakan. Gaji wartawan ada yang di bawah UMK Kota Bandung Rp2,3 juta tapi masih ada wartawan yang digaji di bawah Rp2 juta per bulan,” kata dia.

Bahkan, lanjut Adi, ada sejumlah fotografer atau jurnalis foto di Kota Bandung yang hanya dibayar per Rp50 ribu per fotonya.

“Hal ini memprihatinkan,” katanya.

Selain itu, lanjut dia, hak hak jurnalis perempuan pun masih banyak yang tidak terpenuhi sehingga pihaknya meminta kepada para jurnalis untuk membuat serikat pekerja di perusahaannya.

“Dan pesan saya bentuk serikat pekerja yang ada d ialah, hal itu sangat penting untuk memperjuangkan hak hak jurnalis,” kata dia.

Sumber : Antara
Editor : Adi Ginanjar Maulana

http://bandung.bisnis.com/m/read/20150501/82444/532724/aji-minta-kesejahteraan-jurnalis-ditingkatkan